Header Ads

Jalur Pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho

Gunung Lawu, berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, begitu kental dengan histori peninggalan masa raja Majapahit, Raden Brawijaya V. Kesan sakral yang kental pun begitu melekat karena petilasan-petilasan di gunung Lawu yang menjadi tempat ziarah untuk memohon berkah.

Puncak Hargo Dumilah

Pendakian gunung Lawu dapat ditempuh melalui jalur Cemorosewu, Cemorokandang, Jogorogo, atau Candi Cetho. Di antara jalur-jalur tersebut, jalur yang menawarkan pemandangan yang paling menarik adalah jalur candi cetho. Jalur candi Cetho juga menyimpan cerita historis berkaitan dengan petilasan Raden Brawijaya V. Dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendaki melalui jalur ini. Namun jalur yang melelahkan ini akan terbayar dengan pemandangan yang istimewa di sepanjang jalur Candi Cetho.



Pos pendakian dan estimasi waktu :

Start point, basecamp menuju pos 1 (-+ 90 menit)
Seperti yang biasa dilakukan, pendaki wajib registrasi terlebih dahulu.
Pemandangan pertama, akan disuguhi gagahnya candi peninggalan Raden Brawijaya V, yaitu candi Cetho.
Tidak jauh dari kompleks candi Cetho, terdapat sebuah candi yang dinamakan candi Kethek.
Selanjutnya, perjalanan akan memasuki vegetasi hutan pinus.

Awal jalur pendakian di kompleks Candi Cetho
Sumber gambar : instagram @riankustito

Pos 1 menuju pos 2 (-+ 90 menit)
Medan terbilang landai, dengan beberapa tanjakan. Vegetasi berupa hutan dengan banyak jenis tanaman tinggi.
Sampai di pos 2 terdapat pohon besar dengan balutan kain putih. Ada kesan keramat pada pohon ini, bahkan kesan "angker" begitu kental di area ini. Terdapat area dengan tanah lapang, namun biasanya pendaki memilih untuk tidak mendirikan tenda di sini.

Pos 2 menuju pos 3 (-+ 90 menit)
Medan lebih banyak tanjakan. Di pos 3 terdapat tanah lapang yang cocok untuk mendirikan tenda.

Pos 3 menuju pos 4 (-+ 90 menit)
Medan semakin menanjak. Konon menurut cerita, masih terdapat binatang harimau yang hidup di area ini.

Vegetasi menjelang pos 5

Pos 4 menuju pos 5 (-+ 90 menit)
Menjelang sampai pos 5, terdapat tempat yang terkenal mirip dengan tanjakan cinta di gunung Semeru, yaitu Bulak Peperangan. "Bulak" (bahasa Jawa) berarti hamparan terbuka yang sunyi. Menurut histori, dahulu di tempat ini lah terjadinya peperangan oleh pengikut raden Brawijaya V ketika menghindari serbuan pasukan Adipati Cepu ke gunung Lawu.
Lokasi ini sangat tepat untuk mendirikan tenda. Selain karena lokasinya yang luas, Bulak Paperangan juga menjadi tempat yang cocok untuk menikmati keindahan gunung Lawu.
Tempat ini cukup populer karena mirip dengan tanjakan cinta di gunung Semeru. Pantas saja jika Gunung Lawu disebut juga Semerunya Jawa Tengah.

Bulak Peperangan, mirip dengan tanjakan cinta di gunung Semeru
Sumber gambar : instagram @riankustito

Bila melanjutkan perjalanan lagi, masih ada tempat dengan space yang lebih luas jika ingin beristirahat dan mendirikan tenda, yaitu di Gupakan Menjangan. Lokasi ini merupakan padang sabana yang luas dengan pemandangan yang tak kalah indah dengan Bulak Paperangan. Sangat cocok juga bagi para pemburu foto selfie karena pepohonan di sekitar yang dihiasi dedaunan nan cantik.

Pepohonan cantik di jalur Cetho

Menurut cerita yang beredar, jika beruntung di Gupakan Menjangan ini terkadang masih ditemukan satwa Kijang atau Menjangan.
Terbayang khan indahnya ketika melihat padang sabana dengan penampakan sepasang kijang..

Pos 5 menuju Pasar Dieng (-+ 120 menit)
Pasar Dieng atau pasar setan ditandai dengan adanya tumpukan batu-batu yang tertata rapi. Area ini merupakan tanah lapang yang sangat luas sehingga kurang tepat mendirikan tenda di lokasi ini karena hembusan angin di pasar Dieng sangat kencang yang akan membuat kurang nyaman. Selain itu banyaknya bebatuan juga akan menyulitkan saat mendirikan tenda di tempat ini.
Konon menurut pengalaman beberapa pendaki, ada yang mengalami pengalaman mistis terkait dengan mitos bahwa tempat ini merupakan pasar atau tempat berkumpulnya banyak makhluk tak kasat mata, yang suasananya seperti pasar. Berbagai cerita mistis pun berkembang seputar pasar Dieng ini, yang katanya sering mendengar suara ramai seperti sebuah pasar tetapi sebenarnya tidak banyak pendaki yang mendirikan tenda di situ.
Entah benar atau tidak, kembali ke keyakinan masing-masing.

Namun jika ingin mendirikan tenda untuk beristirahat disarankan ke Hargo Dalem saja karena sudah cukup dekat dengan puncak Hargo Dalem.

Pasar Dieng menuju puncak Hargo Dalem
Estimasi waktu = kurang lebih 30 menit

Di puncak Hargo Dalem terdapat warung mbok Yem yang sudah melegenda. Di lokasi ini juga, terdapat tempat berupa bangunan rumah yang biasa digunakan untuk ziarah bagi orang yang sedang menjalani "lakon" (tirakat) untuk memohon berkah.
Kurang lebih 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak tertinggi, Hargo Dumilah.

Bunga edelweys di puncak Lawu. Jangan dipetik ya, biarkan dia hidup dan cantik di tempat kelahirannya...

Total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak kurang lebih adalah 10 sampai 11 jam.

Apabila mendaki melalui jalur ini, persiapkan fisik sebaik mungkin, karena jalur candi Cetho memiliki rute yang lebih panjang dibandingkan dengan Cemorosewu maupun Cemorokandang. Selain itu, sebelum memulai pendakian, gali informasi dengan bertanya pada petugas basecamp agar mengetahui informasi lengkap dan medan yang akan dilalui. Serta yang harus di ingat, hormati kearifan lokal dan tempat-tempat yang dianggap sakral, pastinya tidak lupa selalu mengawali perjalanan dengan berdoa kepada Tuhan.

Selamat mendaki....


Baca Juga :
1. Jalur Pendakian Gunung Lawu via Cemorosewu
2. Tempat-tempat Keramat Jejak Petilasan Prabu Brawijawa V di Gunung Lawu

No comments